DONI: Manda, inget proyek besar yang kemaren? Kantor saya dapet loh tendernya.
MANDA: Wah, selamat ya!
DONI: Saya dipromosiin, naik gaji naik pangkat.
MANDA: Selamat ya!!
DONI: Abis ini saya pengen belajar leadership. Pasti jawaban kamu selamat ya! lagi nih, pake nada dasar C minor
MANDA: Enggak ah siapa bilang? Orang saya mau ngomen 'Amboi, alangkah bagusnya'
MANDA: Belajar leadership dimana? Emang kamu mau S-3?
DONI: *menggeleng* Saya mau belajar leadership sama kamu
MANDA: Kamu ngajak saya S-3?
DONI: Lah. Bukan. Aduh gimana ya ngomongnya? Saudari Manda, maukah kamu, bangun pagi ngeliat saya. Makan pagi eh ada saya lagi. Pulang kantor loh kok nongol muka saya. Sholat berjamaah imamnya saya. Kalau flu yang bikinin bubur encer saya. Pas lagi pms nggak ada yang bisa ditonjok, ya terpaksa nonjok saya. Kalau ngidam, yang beliin Magnum saya. Bagi tugas ganti popok sama saya. Nyuruh saya jawab, kalau anak-anak nanya pertanyaan jebakan kayak 'mama adik bayi datangnya dari mana'. Diskusi mengenai universitas mereka sama saya. Lalu, skip skip skip, sampai nyabutin uban saya. Bikinin saya teh anget kalau masuk angin. Yah, semacam saya lagi, saya lagi setiap hari?
MANDA: *shock* Saudara Doni, belakangan ini saya dekat dengan pemuda bernama Panji. Dia baik, bermasa depan cerah, wibawa, manis. Saya pikir saya cocok sama dia.
DONI: .......................
MANDA: Tapi, setelah ditimbang masak-masak, i'm not worth enough for anyone but you, because you've been there, witnessed me growing, accepted me as me. It will sound like a cheesy line from a song of our local boyband, but i think, you know me so well and so do i. Plus we heart each other hard, we agree on that.
DONI: So, was that a yes?
MANDA: Nope. I'm going to correct your words. It's not, 'Kamu lagi dan kamu lagi' Tapi, cuma kamu dan cuma kamu. Ahhh, jadi cheesy, kan.
DONI: Kamu nggak bosen sama saya?
MANDA: Belum. Eh, nggak akan pernah sih. Selama saya masih bisa menghargai hal-hal kecil yang kamu kasih.
DONI: Mau permen?
MANDA: Bukan 'kecil' itu, Doniiiiii.